Advertisment  Advertisement

Anak pesantren tumbuh di lingkungan yang tidak biasa, menempuh proses pendidikan yang tidak biasa, sehingga terbentuklah kepribadian dan karakter yang berbeda dengan orang kebanyakan yang tidak pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren.

Biasanya proses pendidikin ini memakan waktu yang panjang, kurang lebih 6 tahun lamanya, sejak SMP sampai SMA.

Selain itu, memakan biaya yang tidak sedikit, serta pengorbanan perasaan yang luar biaya yang tidak pernah di rasakan oleh anak seusia mereka. Sungguh pengalaman yang luar biasa, sulit untuk terulang kembali.

Seiring berjalannya waktu, anak pesantren tumbuh dewasa, melewati masa kuliah, berbaur dengan masyarakat dan mulai terjun dalam dunia kerja.

Dunia Kerja dan Anak Pesantren

Disinilah awal ceritanya, Anak pesantren mulai memasuki lingkungan kerja, berbaur dengan iklim kerja yang berputar sangat cepat.

Tentunya dunia kerja sangat berbeda jauh dengan dunia pesantren, ada tradisi yang tidak biasa, ada kebiasaan yang dijadikan tradisi.

Dunia kerja syarat akan drama, intrik dan politik, semua orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik, bersusah payah mengejar prestasi. Apapun jalannya, bagaimanapun caranya, semua diupayakan untuk mendapatkan perhatian atasan dan melejitnya karir.

Tradisi yang sering terjadi di dunia kerja yang paling banyak ditemui adalah menjilat muka atasan. semua orang saling menjatuhkan, antara karyawan satu dan karyawan lainnya saling sikat, seolah bermuka dua di hadapan atasan.

Hampir setiap karyawan memiliki peran ganda, baik dihadapan rekan kerjanya, namun menusuknya dari belakang saat berhadapan dengan atasan.

Menjilat muka atasan adalah cara paling cepat dan efektif dalam meraih karir dan mendapatkan posisi di hadapan atasan. meskipun cara ini tidak bisa melahirkan kenyamanan.

Anak pesantren akan sulit sekali terkontaminiasi dan mengikuti tradisi menjilat muka atasan, ada semacam barrier yang aktif kembali, tamang yang pernah di tempa dulu semasa di pondok pesantren.

Jadilah anak pesantren adalah karyawan yang paling berbeda, ada rasa jijik baginya untuk menjilat muka atasan. Anak pesantren terbiasa meraih sesuatu dengan prestasi atau setidaknya menunjukan karya.

Jika kamu anak pesantren, ada satu kuote keren dari sosial share yang bisa kamu sampaikan kepada rekan kerjamu yang sering menjilat muka atasan. Manusia bermuka dua, hewan berbulu domba.

di pesantren dulu, kami hanya diajarkan untuk mencium tangan guru, bukan menjilat muka atasan

Sobat, dunia kerja emang kejam, kamu tidak bisa lebih kejam lagi darinya. Jangan hanya karena menginginkan sesuatu, harus mengorbankan rekan kerja kita yang lain.

Kamu tidak perlu harus mondok untuk menjadi anak pesantren, cukup dengan tidak menjilat muka atasan untuk meraih sesuatu, kamu sama dengan anak pesantren.

Dunia kerja itu semua orang sama, jika kamu tidak cukup berbeda, maka kamu akan tenggelam dalam keramaian. Sampaikan salam ini kepada temanmu, penjilat muka atasan, manusia bermuka dua, mirip musang berbulu domba.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here